825 TAHUN PENANTIAN

Muhammad Al Fatih

MENIKMATI PROSES

TIDAK ADA YANG INSTAN PERJALANAN MENUJU KESUKSESAN

KEGAGALAN TERJADI HANYA UNTUK YANG MENYERAH

Utamakan Pandangan Allah Swt.

SMPIT AS SYIFA BOARDING SCHOOL

SMPIT As Syifa Boarding School I Subang Jawa Barat Indonesia.

AS SYIFA BOARDING SCHOOL

As Syifa Boarding School

Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Kawan kita mungkin lebih mulia di Mata Allah_Mufti Menk


Dan Ingatlah dengan kerendahan hati, jika Allah telah memberimu kesempatan untuk mendekat Kepada Nya. Jangan berpikir bahwa orang lain tidak dekat kepadaNya. Aku akan memberitahumu mengapa, ada berapa banyak amal baik? ada ribuan amal baik, apakah kau setuju ? berapa banyak amal sunnah ? Ratusan ribu, apakah kau setuju ? jadi jika kau mengerjakan 20 amal baik, orang lain mungkin telah mengerjakan 40 amal baik tapi benar-benar berbeda daripada amal baik yang kau kerjakan. 
Jadi ketika kau melihat orang itu, dan kau melihat apa yang dia kerjakan tidak seperti yang kau kerjakan, maka kau mulai berpikir bahwa dia tidak religius. Tapi tunggu dulu, dia mungkin mengerjakan amal baik lainnya, mungkin bahkan jauh lebih baik darimu dari segi kualitas dan kuantitasnya, dan kau bahkan tidak mengetahuinya. jadi berhentilah kita menghakimi. jangan pernah menilai buku dari covernya saja. jika Allah swt memudahkanmu untuk menutupi dirimu dengan jilbab, katakan Alhamdulillah, tapi jangan lihat kepada orang-orang yang tidak melakukannya dan berpikir, bahwa mereka tidak soleh. Jika kau memanjangkan jenggot, Alhamdulillah, tapi jangan pernah menilai orang-orang yg tidak melakukannya berarti keimanannya rendah. Mungkin mereka berbakti kepada orangtua tapi kaiu tidak melakukannya, mungkin mereka tidak bergunjing tapi kau melakukannya.
Subhanallah. Mungkin mereka mengerjakan tahajjud, tapi kau tidak.  Jadi amal baik ada banyak, amal baik tidak sebatas pada apa yang kau lakukan saja, ingat itu.
Semoga Allah membuka pintu kita, semoga Dia menjadikan kita menghormati sesama.
Semoga Dia menjauhkan kita dari bergunjing, bergosip, dan hal-hal tercela lainnya.
Cara kita menghormatidan menghargai Rasulullah S.A.W hanyalah dengan mengikuti apa sabdanya.
Dia tidak ingin yang lainnya, dia hanya ingin agar kita mengikuti perbuatannya, mengikuti jalannya, mengikuti ajarannya, untuk memastikan bahwa apapun yang kita lakukan berasal dari padanya, dan menghentikan segala sesuatu yang tidak menyenangkan Allah, karena kita butuh fokus.

Definisi Autisme, dan 7 Ciri Utama untuk Deteksi Dini pada Anak.

"Huh, dasar autis...". Terkadang cemoohan itu dilontarkan kepada seseorang yang tingkah lakunya rada "aneh" atau "asik dengan dunianya sendiri".



         Kalimat seperti itu terasa menyakitkan di telinga dan hati orang yang peduli dengan anak penyandang autisme. Terutama bagi orang tua yang memiliki anak seperti ini, termasuk saya.  Hindarilah penggunaan kalimat itu. Memang terkadang orang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan tanpa menyadarinya. Karena tidak mencoba merasakan bagaimana perasaan orang lain yang mereka cemooh.

    Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olokkaum yang lain [karena] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok] dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain [karena] boleh jadi wanita-wanita [yang diperolok-olokkan] lebih baik dari wanita [yang mengolok-olok] dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri  dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah [panggilan] yang buruk sesudah iman  dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S Al Hujurot :11)

    
       Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memilih, bagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan di dunia ini. Apakah akan dilahirkan sebagai anak orang kaya, atau miskin ? ganteng, cantik atau burukrupa? normal atau ada kelainan?

       Janganlah mengolok-olok kekurangan orang lain. Bagaimana kalau hal yang tidak diinginkan itu terjadi pada kita? atau anggota keluarga kita? Allah Maha Kuasa membolak balik kan kehidupan seseorang. Sayangilah sesama makhluk Allah. Untuk itu kita perlu memahami mereka. Untuk lebih memahami anak penyandang autisme, ayo kita lihat definsi autisme.

       Autisme adalah gangguan perkembangan yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Penyandang autis tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara berarti. Kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan orang lain.

       Penyandang autis memiliki gangguan pada:
a. Interaksi sosial (kesulitan dalam menjalin hubungan sosial).
b. Komunikasi (kesulitan dengan komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai contoh, tidak mengerti  arti dari gerak tubuh, ekspresi muka atau nada/warna suara).
c. Imajinasi (kesulitan dalam bermain dan berimajinasi, sebagai contoh, terbatasnya aktivitas bermain, mungkin hanya mencontoh dan mengikuti secara kaku dan berulang-ulang).
d. Perilaku. Pola perilaku cenderung repetitif dan resisten (tidak mudah mengikuti/menyesuaikan) terhadap perubahan pada rutinitas.
e. Rangsangan sensorik. Contohnya: ada anak yang sangat peka terhadap suara ataupun sentuhan.

       Tanda-tanda awal biasanya terjadi pada usia dini (sebelum usia tiga hingga lima tahun). "Dari studi lebih dari 20 tahun yang dilakukan Robins D dkk dalam 'The Modified Checklistfor Autism in Toodlers, Journal of Autism and Development Disorders' ada 7 checklist yang bisa digunakan untuk mendeteksi autis secara dini".

       Tujuh (7) ciri utama untuk mendeteksi anak autisme, yaitu:
1. Apakah anak tersebut memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain?
2. Apakah ia pernah menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu?
3. Apakah ia bisa menatap mata anda lebih dari 1 atau 2 detik?
4. Apakah ia bisa meniru anda? Misalnya, bila anda membuat raut wajah tertentu, apakah ia menirunya?
5. Apakah ia memberi reaksi bila namanya dipanggil?
6. Bila anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah ia melihat pada mainan tersebut?
7. Apakah ia pernah bermain 'sandiwara' misalnya berpura-pura berbicara di telepon atau berpura-pura menyuapi boneka?
Seorang anak berpeluang menyandang autis jika minimal 2 dari pertanyaaan diatas dijawab tidak.
"Tidak semua anak yang berpeluang menyandang autis memenuhi kriteria di atas. 7 ciri utama ini digunakan agar orangtua dan guru waspada untuk segera memeriksa dan mendiagnosa anak yang berpeluang autis kepada dokter terdekat,".

Modified Checklist for Autism in Toodlers bisa digunakan untuk mendeteksi gejala autis untuk anak usia 18 bulan atau sebelum 3 tahun. Bila orangtua sudah bisa mendeteksi gejala autisme secara dini maka mereka akan memiliki peluang yang semakin besar untuk membuat anaknya menjadi mandiri.

Dari definisi di atas bisa kita lihat bahwa "cuek" nya anak autis itu bukanlah disengaja. Bukan karena kurang sopan ataupun tidak menghargai orang lain.
       Saya punya kisah yang mengharukan dari seorang penyandang autisme ringan yang saya kenal. Ia teman SMP adik saya yang usianya sekarang berkisar 46 tahun. Saya ingat bahwa dulu, ketika SMP ia perilakunya menyebalkan, seenaknya sendiri, egois. Setelah berkeluarga dan memiliki anak, ternyata anaknya penyandang autisme. Suatu ketika ia membaca buku tentang autisme. Ia baru menyadari bahwa ia juga penyandang autisme ringan. Selama puluhan tahun ia atau pun orang tuanya tidak menyadari hal ini. Ia hanya merasa"stress" dengan perilakunya sendiri yang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pada suatu seminar ia pernah ditanya "Bagaimana perasaannya ketika remaja menghadapi lingkungan dan permasalahan yang sulit ia mengerti?" Ia menjawab "Rasanya saya pengen bunuh diri".

       Jadi kalau kita bertemu dengan anak2 seperti ini cobalah untuk mengerti. mereka tidak minta dikasihani, karena hal ini membuat mereka manjadi lemah, tapi sayangilah mereka, pahamilah kesulitan yang mereka hadapi. Jangan dicemooh apalagi dikucilkan. Semoga mereka menjadi pribadi yang sabar, mandiri dan bahagia di dunia dan di akhirat nanti. Amin.

Sumber: Kerincigoogle.com Situs youth shine academy.
Gambar diambil dari magickalgraphics.com. Terima kasih.
http://setetes-embun-di-pagi-hari.blogspot.com/

SURAT CINTA UNTUK GENERASI MUDA ISLAM



SURAT ini sesungguhnya saya tulis di tengah kecemasan mendalam sebagai seorang warga biasa, seorang ibu yang khawatir akan masa depan anak-anak dan generasi muda.
Kasus sodomi yang menimpa murid Jakarta International School (JIS) sungguh memprihatinkan. Fenomena ini setidaknya menunjukkan pada kita bahaya sedang mengancam anak-anak kita.
Survey ini dilakukan oleh Komnas PA bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di 12 kota besar pada tahun 2012 menjelaskan, dari 4726 anak yang diteliti, 93,7% remaja SMP dan SMA mengaku pernah berciuman, genital stimulation, hingga oral seks. Yang cukup mencengangkan, 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan.
Catatan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) tahun 2013 ada 2.792 kasus  kekerasan seksual, 52 persennya menimpa ana-anak. Sisanya 229 kasus tawuran antar pelajar dll.
***
DUHAI generasi muda penerus peradaban, di tangan kalianlah masa depan teronggok. Akan kalian jadikan apapun itu tergantung kalian. Bangsa ini jadi mulia, terdepan dan kokoh, tergantung kalian. Bangsa ini bisa hancur, berkeping-keping, juga tergantung kalian!
Duhai anak-anak penerus estafet peradaban, amanah teramat besar menanti kalian. Sambutlah dengan senyum dan kebanggaan. Torehkanlah nama kalian dalam sejarah peradaban dengan tinta emas kemuliaan, bukan dengan lumpur hitam berlumur kehinaan.
Wahai generasi emas, dan generasi peradaban! Tempalah diri kalian dengan kepribadian Islam yang kokoh dengan panduan Quran, karena hanya itu ang akan menyelamatkan kalian. Yang lain jelas tidak!
Jadikanlah diri kalian sebagai generasi yang dirindu jannah, yang layak mendapat naungan Allah di saat tak ada lagi naungan kelak di hari akhir.
DUHAI generasi peradaban! Lihatlah sekeliling kalian, lihatlah!
Betapa generasi muda hari ini terlenakan oleh dunia, kesenangan, hura-hura, bahkan atas nama cinta.
Kalian dibuai oleh “cinta” yang hanya kalian ketahui sebatas hasrat (ketertarikan) laki-laki dan perempuan. Cinta telah menjadi kalian “berhala” baru.  Disembah dan dipuja, meracuni lewat lagu, puisi, bacaan, komil, film hingga sinetron.
Lihatlah betapa banyak yang hancur karenanya…..
Kita tentu ingat peristiwa memilukan yang menimpa Ade Sara Angelina (19). Ia ditemukan telah tewas dibunuh oleh mantan pacarnya sendiri, Hafitd (19),  dibantu kekasihnya,  Assyifa (19). Semua dilakukan karena sakit hati “atas nama cinta”.
Lihat pula kisah Mia Nuraini (16), yang meninggal setelah dikeroyok  Albi Haq (21), mantan pacarnya, bersama 7 temannya. Motifnya sama lantaran dendam “anas nama cinta” (Tempo.com, 13/03/2014).
Masih banyak sekali kisah serupa yang melengkapi deretan panjang daftar kerusakan, pembunuhan dan kehancuran generasi muda “atas nama cinta”.
“Atas nama cinta” akhirnya kalian  terpuruk,  hancu dan rela membunuh, merusak dan menghilangkan nyawa orang lain.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Sungguh “cinta” tidak lah sama seperti yang dinyatakan Freud, bahwa ianya bak makanan yang jika tak dimakan kan mengantarkan pada kematian. Karena “cinta” tidaklah sama dengan hasrat/naluri seksual.
Janganlah kalian terkecoh oleh ucapan, statament, pernyataan orang, atau tokoh-tokoh yang tidak pantas jadi panutan dan rujukan hidup!
Karena dari lisan dan pikiran-pikiran merekalah  ia menyengaja membangkitkan naluri/hasrat kalian dengan cara salah dan liar.
Dengan bungkus “cinta” mereka mengemas bacaan, lagu, film, game, tontonan/materi pornografi agar kalian terjebak dengan  gaya hidup bebas tanpa aturan.
Pacaran sebagai sebuah keharusan dan jomblo seolah sebuah aib dan beban hidup.
Akibat gelar-gelar “menyesatkan” ini akhirnya kalian tak ragu menyerahkan kehormatan meski di luar pernikahan yang mulia yang dengannya Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan berkahnya.
DUHAI generasi muda nan mulia!
Sungguh, tak demikian adanya fakta “cinta”. Cinta dalam bentuk ketertarikan kepada lawan jenis hanya bagian dari gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis). Karakter naluri hakikinya berbeda dengan kebutuhan hidup semisal makan atau bernafas. Naluri meski juga memiliki tuntutan untuk dipenuhi tapi sifatnya tidaklah mendesak dan mutlak. Jika tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan bukan kematian.
Fakta bahwa betapa banyak orang yang hingga akhir hayatnya tak menikah membuktikan itu.
Anak-anak ku generasi dambaan umat!
Allah Subhanahu Wata’ala menganugrahkan gharizah nau’  yang salah satu penampakannya adalah rasa “cinta” dan ketertarikan pada lawan jenis untuk memuliakan dan menjaga keturunan kalian. Bukan untuk disalahgunakan. Apalagi hanya  untuk merendahkan dan menghinakannya kalian sendiri.
Menikah justru  untuk menjamin agar “cinta” menjadi penjaga harkat dan martabat kalian. Sebaliknya jika kalian menyalahgunakannya justru hanya merendahkan martabat dan hinalah kita.
Pesan Rasulullah yang pernah disampaikan Ibn Mas’ud RA,  “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya.”
Wahai Pemuda, ingatlah! Allah berpesan;
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur [24]: 32-33)
DUHAI generasi yang berkepribadian mulia!
Inilah seperangkat aturan dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk memuliakan manusia dengan “cinta”.
Allah telah memuatnya dalam surat-surat cinta-Nya (al-Qur’an dan hadits) untuk umatnya yang dikirim melalui utusan-Nya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam).
Salurkanlah kasih sayang dan “cinta” dengan cara yang benar dan diridhoi melalui pernikahan. Karena dari bingkai pernikahanlah akan terlahir anak-anak sebagai keturunan pelanjut generasi yang  terjaga, terpelihara dan diridhoi Allah.
DUHAI pemuda, generasi peradaban!
Lembaga pacaran bukanlah cara penyaluran “cinta” yang benar dan diridhoi Allah, sebab  pacaran tak akan mampu memelihara kesucian “cinta”  aktivitas pacaran menyebabkan hadir dan terlibatnyasyetan, bukan Allah Subhanahu Wata’ala.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Jagalah diri kalian. Jagalah hati kalian. Peliharalah “cinta” kalian agar tetap suci nan indah pada waktunya dan melahirkan “mitsaqon gholiza” (perjanjian yang kokoh), jalinan perjanjian setara perjanjian Allah dan Rasulnya.
Inilah media “cinta”yang menjadi wasilah lahirnya manusia-manusia baru dengan kepribadian kokoh penopang peradaban mulia.
Jadi manakah yang akan kita pilih? Ikutnya “kehadiran”  Allah ta’ala atau keterlibatan syetan dalam hidup kita?
WAHAI Pemuda!
Di tengah kerusakan massal; pornografi, budaya pop, free sex, fenomena lesbian, homoseksual, pedopili dan kejahatan seksual di mana-mana, tetap teguhlah membawa agama ini meski berat.
Bersiaplah menjadi ‘orang asing’ di antara fenomena sistem yang rusak,  itulah sesungguhnya ‘orang-orang asing yang beruntung”. Sebagaimana pesan Rasulullah yang diriwayatkan  Imam Tirmidzi,  “Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.”
Semoga kita, semua keluarga dan keturunan kita senantiasa diberkahi dan dalam perlindungan Allah Ta’ala…*
Tertanda,
Syifaiyah,  ibu rumah tangga dengan dua orang putra yang sedang gelisah
http://www.hidayatullah.com/redaksi/surat-pembaca/read/2014/04/30/20893/surat-cinta-seorang-ibu-untuk-generasi-muda-islam.html#.U2GjhKKubIU
 http://www.hidayatullah.com/redaksi/surat-pembaca/read/2014/04/30/20893/surat-cinta-seorang-ibu-untuk-generasi-muda-islam.html/2#.U2Gj_aKubIU

belajar dari Ummu Zufar radhiyallohu’anha




Dia adalah seorang shahabiyyat bernama Su’airah al-Asadiyyah atau yang dikenal dengan Ummu Zufar radhiyallohu’anha. Walau para ahli sejarah tak menulis perjalanan kehidupannya secara rinci, karena hampir semua kitab-kitab sejarah hanya mencantumkan sebuah hadits dalam biografinya, namun dengan keterangan yang sedikit itu kita dapat memetik banyak faedah, pelajaran, serta teladan yang agung dari wanita shalihah ini.
Su’airah al-Asadiyyah berasal dari Habsyah atau yang dikenal sekarang ini dengan Ethiopia. Seorang wanita yang berkulit hitam, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketulusan. Ia adalah perumpamaan cahaya dan bukti nyata dalam kesabaran, keyakinan dan keridhaan terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah, Rabb Pencipta Alam semesta ini. Dia adalah wanita yang datang dan berbicara langsung dengan pemimpin orang-orang yang ditimpa musibah dan imam bagi orang-orang yang sabar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Dialog mereka berdua telah dimaktub dan dinukilkan di dalam kitab sunnah yang mulia. Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Inginkah engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku pun menjawab, “Tentu saja.”
Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:
“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”
Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.”
Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)
Perhatikanlah … betapa tingginya keimanan wanita ini. Ia berusaha menjaga hak-hak Allah dalam dirinya. Tak lupa pula mempelajari ilmu agama-Nya. Meski ditimpa penyakit, ia tidak putus asa akan rahmat Allah dan bersabar terhadap musibah yang menimpanya. Sebab ia mengetahui itu adalah sesuatu yang diwajibkan oleh Allah. Bahwasanya tak ada suatu musibah apapun yang diberikan kepada seorang mukmin yang sabar kecuali akan menjadi timbangan kebaikan baginya pada hari kiamat nanti.

“ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan diberi pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar :10)
Di dalam musibah atau cobaan yang diberikan Allah kepada manusia terkandung hikmah yang agung, yang dengannya Allah ingin membersihkan hambanya dari dosa. Dengan keyakinan itulah Su’airah lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, kerana apa yang ada disisi Allah lebih baik dan kekal. Dan Ketika diberikan pilihan kepadanya antara surga dan kesembuhan, maka ia lebih memilih surga yang abadi. Akan tetapi di samping itu, ia meminta kepada Rasululloh shallallahu ’alaihi wasallam untuk mendoakan agar auratnya tidak terbuka bila penyakitnya kambuh, karena ia adalah wanita yang telah terdidik dalam madrasah ‘iffah (penjagaan diri) dan kesucian, hasil didikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, dan menjaga hak Allah yang telah memerintahkan wanita muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya dengan menutup aurat. Allah subhanahu wa ta’alla berfirman:

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (Qs An-Nur: 31)
Su’airah telah memberikan pelajaran penting bagi para wanita yang membuka auratnya, bahwa hendaknya mereka bersyukur kepada Allah ta’alla atas nikmat kesehatan yang telah dilimpahkan kepada mereka. Berpegang dengan hijab yang syar’i adalah jalan satu-satunya untuk menuju kemuliaan dan kemenangan hakiki, karena ia adalah mahkota kehormatannya. Dalam permintaannya, Su’airah hanya meminta agar penyakit yang membuatnya kehilangan kesadarannya itu tidak menjadi sebab terbukanya auratnya, padahal dalam keadaan itu pena telah diangkat darinya! Akan tetapi, ia tetap berpegang dengan hijab dan rasa malunya!
Betapa jauhnya perbandingan antara wanita yang pemalu dan penyabar ini dengan mereka yang telanjang yang tampil dilayar-layar kaca dan terpampang di koran dan majalah-majalah. Tak perlu kita mengambil contoh terlalu jauh sampai ke negara-negara barat sana. Cukuplah kita perhatikan di negara kita tercinta ini saja, banyak kita temukan wanita-wanita telanjang berlalu lalang dengan santainya di setiap lorong dan sudut kota, bahkan di kampung-kampung tanpa rasa malu sedikitpun. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah sebutkan perihal mereka ini dengan sabdanya:

“ Ada dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka: satu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi dimana mereka memecut manusia dengannya, dan kaum wanita yang berpakaian akan tetapi telanjang, genit dan menggoda, (rambut) kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Sungguh mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapati baunya, padahal bau surga bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian (jauhnya).” (HR Muslim 5704)
Mereka tak ubahnya seperti binatang yang kemana-mana tak berpakaian karena mereka memang tidak berakal! Keluarnya mereka telah merusak pandangan orang-orang yang berakal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda tentang mereka:

“Seorang wanita itu (seluruhnya) aurat. Apabila ia keluar (rumah) maka setan akan membuat mereka nampak indah di hadapan orang-orang yang memandanginya.” (HR Tirmidzi 1206, dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no 6690)
Dan sungguh semua itu bertolak belakang dengan fitrah manusia. Allah ta’ala berfirman:

“ Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs Al A’raf :179)
 Sumber :http://m-irsyad.blogspot.com

KUNCI KEBAHAGIAAN 3. SABAR


Hidup memang tidak akan pernah lepas dari berbagai macam ujian dan cobaan. Banyak kejadian yang kadang-kadang tidak kita inginkan tiba-tiba terjadi dalam hidup kita. Seringkali ada berbagai masalah yang sulit untuk kita hindari. Baik itu masalah keuangan, keluarga, hubungan sosial, asmara, dll. Ketika berbagai macam persoalan membuat hidup terasa sempit maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus meminta pertolongan. Tentu tiada pertolongan yang lebih sempurna selain pertolongan dari Allah SWT. Itulah sebaik-sebaik pertolongan yang harus kita dapatkan. Allah SWT telah menunjukkan jalan kepada kita untuk meminta pertolongan dari-Nya. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…. (QS Al Baqarah:45).
Seringkali kita mengeluh dan mengadukan kesulitan-kesulitan kita kepada orang lain, namun terkadang kita lupa untuk mengadu kepada Allah SWT. Padahal Allah SWT adalah sebaik-baik penolong. Salah satu cara yang diberikan oleh Allah SWT adalah dengan cara mengerjakan Sholat sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Shalat merupakan sarana untuk mendekat kepada Allah SWT, sehingga akan lebih mudah untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya. Akan tetapi sholat yang dimaksud bukan hanya sekedar ritual yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Akan tetapi sholat kita haruslah mampu untuk mencegah perbutan keji dan munkar. Sholat yang kita lakukan hendaknya mampu menguatkan jiwa kita untuk menjauhi segala kemaksiatan.
Selain shalat, Allah SWT  memberikan petunjuk kepada kita untuk mendapat pertolongan dari-Nya yaitu dengan bersabar. Hal ini bukan berarti kita pasrah tanpa upaya apapun, sebab Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk berikhtiar guna mencapai apa yang kita inginkan dan menghindari apa yang tidak kita inginkan. Sabar adalah suatu perkara lain yang tidak bisa dicampuradukkan dengan pembahasan ikhtiar. Artinya, ketika bersabar bukan berarti kita meninggalkan ikhtiar dan ketika berikhtiar bukan berarti kita tidak sabar. Justru ketika kita ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan terus menurus adalah merupakan cerminan dari kesabaran kita. Kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan bisa kita tunjukkan dengan selalu berbaik sangka terhadap keputusan Allah SWT serta selalu optimis dan yakin akan pertolongan Allah SWT. Sebab tidak mungkin Allah SWT akan menyia-menyianyiakan apalagi sampai mendzalimi hambanya. Sebar berarti tidak berputus asa serta selalu berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik sesuai dengan tuntunan Syari’at Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Kesulitan hidup yang kita alami tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk melanggar aturan Allah SWT. Aktivitas kita mencari penghasilan tidak bisa menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban beribadah kepada Allah. Sulitnya mencari penghidupan dan pekerjaan tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan apapun tanpa memandang halal dan haram. Orang mungkin seringkali mengatakan “yang haram saja susah apalagi yang halal”, ini merupakan ungkapan bodoh yang menyesatkan. Kalau yang haram susah, maka seharusnya cari yang halal supaya mudah. Logikanya sesuatu yang halal pasti diridhoi oleh Allah SWT, jadi sebenarnya malah lebih mudah dari pada yang harum. Namun kebanyakan orang tidak bersabar sehingga mereka lebih suka memilih jalan yang Haram. Seringkali kita menemukan para muda-mudi yang asyik melakukan pacaran, padahal itu adalah sesuatu yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT. Mereka tidak memiliki kesabaran untuk bertahan sampai benar-benar siap melakukan Pernikahan. Sampai akhirnya mereka memilih jalan kemaksiatan untuk memenuhi tuntutan naluri seksual mereka.
Sabar bukan hanya ketika menghadapi kesulitan hidup saja. Akan tetapi kesabaran juga amat diperlukan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Berbagai macam godaan dan tantangan yang semakin deras membuat jiwa kita kadang-kadang goyah dan berpotensi untuk melakukan kemaksiatan. Maka dari itu kesabaran dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan sangat diperlukan, apalagi di era kapitalis sekuler seperti sekarang ini. Agama sudah tidak begitu diperhitungkan dalam aktivitas kehidupan. Dengan berbagai alasan, hukum-hukum islam banyak yang ditinggalkan, dan kemaksiatan begitu mudah dilakukan secara terang-terangan. Maka dari itu, adanya kesabaran dengan tetap melakukan perjuangan merupakan sikap yang paling tepat untuk selalu meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Oleh: Agus Prasetya

KUNCI KEBAHAGIAAN 2. SYUKUR


Sebagaimana yang telah saya tulis dalam artikel sebelumnya, kebahagiaan adalah perkara batin. Salah satu hal lagi yang membuat batin merasa tentram dan bahagia adalah sikap yang selalu Bersyukur kepada sang pemberi nikmat Allah SWT. Kata Syukur memang adalah kata yang sudah tidak asing di telinga kita. Kata itu sering diucapkan ketika membuka pidato, kajian, Rapat dll. Akan tetapi pada kenyataannya kata Syukur yang begitu mudah diucapkan ternyata  kadang tak mudah dilakukan.
Satu hal yang sering membuat kita sulit untuk bersyukur adalah kesombongan. Kita merasa bahwa apa yang kita dapatkan dan kita miliki adalah semata-mata karena hasil jerih payah dan usaha kita sendiri. Kita lupa bahwa apa yang kita dapatkan sesungguhnya adalah rahmat dan karunia Allah SWT. Dengan memahami bahwa apa yang kita dapatkan adalah karunia Allah SWT, maka meskipun apa yang kita dapatkan adalah sesuatu yang kecil kita akan tetap merasa senang, sebab kecil ataupun besar semuanya sama, sama-sama rahmat dan karunia Allah SWT. Berbeda ketika kita selalu merasa bahwa apa yang kita dapatkan adalah semata-mata hasil jerih payah kita sendiri maka jika suatu ketika mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan keinginan akan merasa sangat menderita. Dia akan mati-matian menyalahkan diri sendiri, bahkan parahnya dia akan menyalahkan orang lain serta menyalahkan keadaan.
Jika kita mau sedikit merenung, maka sungguh begitu banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Maka tidak heran jika kemudian Allah SWT Berfirman dalam Surat Ibrahim : 34
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ……
“……….Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
Kesehatan badan, keamanan, sandang, pangan, papan, udara dan air merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Selain itu adanya sepasang mata, dua bibir, tangan dan kaki juga merupakan nikmat yang tidak terhingga nilainya. Semua itu sangat berharga, namun seringkali kita tidak menghargai semua itu. Kita baru merasa semua itu berharga ketika telah dicabut oleh Allah SWT atau minimal dikurangi oleh-Nya. Kita baru merasa bahwa kesehatan begitu berharga ketika kita sakit, kita merasa nafas begitu berharga ketika pilek, kita baru merasa bibir begitu berharga ketika sariawan, dan yang lebih berbahaya adalah ketika kita baru merasa hidup begitu berharga ketika sudah mati. Na’udzu billah.
Apakah kita mengira bahwa bisa berjalan dengan dua kaki adalah hal yang sepele, Apakah berdiri dengan dua betis adalah sesuatu yang mudah? Sekali lagi itu semua tidak akan terlaksana tanpa nikmat dari Allah SWT. Namun sayang, kita begitu sering melupakannya, bahkan terkadang merasa seolah paling menderita tanpa ada nikmat sedikitpun  dari Allah SWT. Ketika kuliah terasa begitu membosankan, maka cobalah tengok di luar sana ada ribuan orang bersedih karena tidak bisa kuliah. Ketika pekerjaan terasa bagitu melelahkan maka cobalah perhatikan di luar sana ada ribuan orang menangis karena tak dapat kerja. Ketika orang tua terasa begitu kejam kepada kita maka bertanyalah tentang derita orang-orang yang ditinggal oleh orang tuanya. Ketika anak membuat kita begitu stres, maka bertanyalah tentang betapa stressnya orang tua yang tidak memiliki anak.
Satu hal lagi yang mesti kita pahami, Bersyukur bukan berarti berpuas diri. Bersyukur adalah suatu kewajiban, tapi berpuas diri adalah larangan, apalagi dalam hal ilmu dan ibadah. Ketika kita bersyukur bukan berarti berhenti untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Bukan berarti berhenti dan berpuas diri dengan keadaan yang ada. Bersyukur adalah sikap kita yang selalu merasa berterimakasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan olehnya dengan terus menggapai nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Sebab nikmat Allah begitu banyak dan luas. Maka dari itu kita jangan khawatir tidak kebagian nikmat dari-Nya. Kita harus optimis dalam segala hal, sebab nikmat dari Allah sangat luas dan Allah sangat maha pemurah kepada hambanya. Maka sungguh kita tidak layak memiliki sikap ragu-ragu dan pesimis. Jika kita bersikap seperti itu maka sesungguhnya kita meragukan kemurahan Allah SWT.
Syukur kepada Allah tentunya tidaklah cukup hanya dengan ucapan Hamdalah semata. Syukur kepada Allah haruslah diaplikasikan dalam tindakan nyata yaitu dengan selalu berupaya menggunakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT di jalan yang diridhoi oleh-Nya. Dengan kata lain kita mesti selalu tunduk dan patuh terhadap aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik itu aspek pribadi, sosial, maupun negara. Kita sungguh tidak layak menentang-Nya sedikitpun, sebab ketika seseorang bermaksiat bahkan menentang Allah Sekalipun, maka dia pasti masih menggunakan nikmat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rahman ayat 13:
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat di atas memberikan sindiran kepada kita dengan sebuah pertanyaan yang cukup menyentuh. Dengan berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, maka masih pantaskah kita mendustakannya? Masih pantaskah kita merasa menderita karena tidak diberi apa-apa oleh –Nya? Serta Masih pantaskah kita meninggalkan perintahnya, bahkan menentang aturannya?
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang disebut dalam surat An Nahl ayat 83 :
…..يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya….”
Oleh : Agus Prasetya

KUNCI KEBAHAGIAAN 1. TAWAKAL




Dalam mengarungi kehidupan, manusia tentu menginginkan kebahagiaan. Berbicara soal kebahagiaan maka sesungguhnya hal tersebut adalah permasalahan batin. Bahagia tidaknya seseorang sebanarnya tidak tergantung sepenuhnya terhadap hal-hal yang bersifat materi, walaupun hal-hal yang bersifat materi tetap akan mempengaruhi kebahagiaan manusia, akan tetapi materi bukanlah hal utama yang mempengaruhi kebahagiaan. Misalnya saja, apakah orang yang memiliki 4 rumah, 2 perusahaan, dan 7 mobil mewah pasti lebih bahagia dari orang yang hanya memiliki 1 rumah, 1 motor, dan sepetak sawah?Jawabnya, Belum tentu, karena sekali lagi Kebahagiaan adalah perkara batin. Kebahagiaan terkait respon batiniah kita terhadap fenomena kehidupan.
Meskipun seseorang memiliki Kekayaan yang melimpah, akan tetapi jika batiniahnya merasa kurang atau dengan kata lain masih merasa miskin maka dia tetap tidak bisa dikatakan bahagia. Memangnya adakah orang yang seperti itu? Tentu ada, misalnya saja Para koruptor, mereka tentu rata-rata adalah para pejabat negara yang gajinya tidak sedikit. Mereka tentu bukan gelandangan apalagi kaum peminta-minta. Mereka adalah orang yang hidup dengan fasilitas di atas rata-rata. Intinya secara lahir mereka adalah orang kaya. Kalau mereka memang orang kaya, lantas mengapa mereka nekat melakukan korupsi yang resikonya dunia-akhirat? Tentu saja karena merasa masih kurang, merasa belum kaya, lahiriah mereka kaya tapi batiniah mereka miskin. Mereka tidak pernah merasa cukup, sehingga hidupnya tidak merasa tenteram. Itulah sedikit contoh bahwa orang yang berlimpah materi belum tentu merasa bahagia.
Untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup ada kunci-kunci kebahagiaan yang harus selalu kita pegang. Karena kebahagiaan adalah perkara batin maka kunci-kunci kebahagiaan juga bersifat batiniah. Kunci-kunci ini sangat erat hubungannya dengan kecerdasa spiritual yang dimiliki oleh seseorang (pembahasan tentang kecerdasan spiritual insya Allah akan disajikan dalam artikel yang lain). Kunci yang pertama adalah “Tawakal kepada Allah SWT”. Tawakal adalah mewakilkan urusan kita kepada pihak lain yang dianggap terpercaya. Jadi, Tawakal kepada Allah berarti kita menyerahkan urusan kita sepenuhnya kepada Allah SWT. Ketika bertawakal berarti kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT tentang kemungkinan Berhasil tidaknya urusan yang sedang atau akan kita jalankan. Dengan sikap seperti ini berarti kita siap menerima apapun keputusan dari Allah SWT tanpa protes dan kecewa. Sebab kita telah memahami bahwa meskipun kita punya rencana, tapi Allah lah yang punya Kuasa. Dengan sikap seperti ini kita juga akan lebih optimis karena “Backing” kita dalam meyelesaikan sebuah urusan bukanlah “Backing” sembarangan tapi sang penguasa jagad raya Allah SWT yang akan menjadi “Backing” kita.
Tawakal merupakan konsekuensi logis atas keimanan kita. Ketika kita yakin sepenuhnya kepada Allah SWT, bahwa Dia adalah Dzat yang maha kuasa, maha adil, maha kaya, dan maha penyayang kepada hambanya, maka tidak layak ada keraguan dalam diri ini untuk menyerahkan urusan kepada sang penguasa Alam, Allah SWT. Apalagi hal ini merupakan perintah Allah SWT dalam banyak Ayat Al Quran, yang diantaranya adalah:
 يَنْصُرْكُمُ اللهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Jika kamu ditolong oleh Allah, maka tidak akan ada yang mampu mengalahkan dan menghinakan kamu. Maka, siapakah yang dapat menolong kamu setelah (pertolongan) Allah? Dan kepada Allahlah orang-orang yang beriman hendaknya bertawakkal.” (TQS. Ali Imrân: 160).
Dengan tawakal berarti kita menjadikan Allah SWT sebagai tempat bersandar dalam segala situasi. Sebab hanya Allah lah yang pantas menjadi tempat bersandar bagi kita, bukan yang lainnya. Dengan menyandarkan segala sesuatu kepada Allah SWT maka hidup akan merasa tenang, sebab kita yakin bahwa sandaran kita kita adalah Dzat yang maha kuat. Selain itu, Allah tidaklah memiliki kepentingan apapun dengan kita, sehingga setiaap keputusan dari Allah pastilah keputusan yang terbaik dan sangat adil. Tidak mungkin Allah menyengsarakan hambanya, sebab Dia lah yang maha pengasih lagi maha penyayang bagi setiap hambanya. Dengan bertawakal maka Allah akan menjamin rezeki kita, sebagaimana dalam sebuah Hadits:
“Jika kamu bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kamu sama seperti memberikannya kepada burung yang berangkat pagi dengan perut kosong kembali dengan kenyang.” (H.r. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Bertawakal kepada Allah bukan berarti kita melupakan hukum sebab akibat. Bertawakal adalah perintah dari Allah, sedangkan mengikuti hukum sebab akibat juga merupakan perintah dari-Nya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Rasulullah adalah orang yang paling bertawakal kepada Allah, tetapi Beliau juga tetap melaksanakan hukum sebab akibat. Ketika berperang misalnya, beliau juga memakai baju besi, menyiapkan strategi perang, dan menyiapkan senjata beserta kendaraan. Bukan berarti karena sudah bertawakal kemudian rasulullah melakukan persiapan ala kadarnya. Walaupun sudah bertawakal, rasulullah tetap melakukan persiapan fisik secara sungguh-sungguh. Ada sebuah kisah yang cukup mashur di tengah-tengah kita, yaitu tentang seorang baduwi yang bertanya kepada rasulullah SAW. Orang Baduwi tersebut memahami bahwa bertawakkal kepada Allah SWT. dengan pemahaman, bahwa jika seseorang telah bertawakkal, maka orang tersebut bisa meninggalkan hukum sebab-akibat. Dia datang kepada Nabi dan bertanya kepada beliau saw.:
“Apakah unta itu dibiarkan saja depan pintu seraya bertawakkal kepada Allah? Ataukah harus diikat dahulu supaya tidak hilang?” Beliau saw. menjawab: “Ikatlah dan bertawakkal (kepada Allah).”
Antara tawakal dan melaksanakan hukum sebab akibat bisa diibaratkan seperti shalat dan puasa. Ketika kita melaksanakan puasa bukan berarti kewajiban shalat menjadi gugur, atau sebaliknya. Shalat adalah suatu kewajiban dan puasa adalah kewajiban yang lain. ketika salah satunya dikerjakan bukan berarti kewajiban yang lain menjadi gugur. Begitu pula dengan tawakal yang merupakan suatu kewajiban dan melakukan hukum sebab akibat adalah kewajiban yang lain. tidak bisa dengan alasan sudah bertawakal kemudian kita tidak mau bekerja, atau Ketika ingin pintar kita tidak mau belajar dengan alasan sudah bertawakal, itu semua adalah pemahaman yang keliru. Sekali lagi, tawakal bukan berarti menghilangkan kewajiban kita sebagai manusia untuk mengikuti hukum sebab akibat. Sebab, Allah SWT telah menciptakan hukum sebab akibat bagi kehidupan manusia. Tawakal adalah perkara hati, melakukan hukum sebab akibat adalah perkara fisik, keduanya tidak bisa dikaitkan satu sama lain.
Begitu juga dengan perjuangan menegakkan islam, walaupun Allah telah menjanjikan bahwa islam akan kembali tegak, bukan berarti kita tidak berjuang. Kita harus tetap berjuang, karena rasulullah dulu juga berjuang. Tidak bisa dengan alasan sudah yakin dengan janji Allah kemudian kita tidak mau berjuang. Percaya kepada janji Allah adalah suatu kewajiban dan berjuang adalah kewajiban yang lain.
Allah SWT membarikan penegasan kepada kita dalam sebuah ayat:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ
“Apabila kamu mempunyai azam, maka bertawakkallah kepada Allah.” (Q.s. Ali Imrân: 159).
ketika kita sudah memiliki suatu keinginan kuat maka harus segera bertawakal kepada Allah. Dengan seperti itu, ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bersyukur, dan ketika tidak tercapai akan tetap bersabar, sebab berhasil tidaknya keinginan tersebut telah kita serahkan kepada Allah SWT. Dengan seperti itu, hidup tentu akan selalu tentram dan bahagia. Wallau a’lam bi Shawab.Oleh : Agus Prasetya

Menjaga Aib Sesama Muslim

 
Setiap manusia diciptakan dalam keadaan fitrah juga suci. Namun bukan berarti dengan demikian manusia adalah makhluk yang terbebas dari dosa. Justru bagian dari fitrah manusia adalah memiliki banyak kesalahan dan dosa.

Rasulullah bersabda “Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. HR. Ibnu Majah, no. 4251, dan dihasankan oleh Al-Albani.

Dan dosa bagi seorang muslim adalah sebuah aib. Aib secara bahasa adalah cacat atau kekurangan sebagaimana para ulama mengatakan aib sebagai suatu bagian yang tidak ada dari asal penciptaanya dan hal itu dianggap sebagai bentuk kekurangan.

Dalam islam kita diwajibkan untuk menutup aib sesama muslim terlebih aib sendiri. Memang secara fitrah manusia  merupakan kewajaran jika manusia berbuat salah. Namun disisi lain kita diperintahkan oleh Allah dan RasulNya untuk menutupinya.

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya.” (Al-Bukhari) 

Namun yang dimaksud menutupi ini adalah bukan menutup-nutupi kesalahan. Atau tidak mengakui kesalahan. Menutup aib sesama muslim dimaksudkan agar keburukan itu tidak tersebar kepada khalayak luas sehingga dapat mempermalukannya. Padahal boleh jadi kesalahan atau keburukan yang ia lakukan karena sebab-sebab lain. Atau karena kekhilafaanya yang tidak disengaja. Seperti yang Allah fimankan dalam Al Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Maka kesabaran kita dalam menjaga aib saudara kita adalah sebuah keharusan. Dan Allah memberikan ganjaran yang besar bagi mereka yang menjaga aib saudaranya.

Dalam Riyadhus Shalihin disebutkan, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Seorang hamba yang menutupi aib orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (HR.Muslim) 
Di zaman ini kita seolah terbiasa dengan membuka aib bahkan menggunjing sesama muslim. Padahal ini merupakan perbuatan yang buruk yang justru akan membinasakan kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah, “ Tidak akan masuk surga orang yang suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain.” (Al-Bukhari)

Sikap yang paling baik bagi kita jika melihat keburukan orang lain adalah dengan berlapang dada dan mendoakannya. Itu dapat lebih meringankan hati kita dan juga saudara kita. Karena jika kita membuka aib saudara kita tentu hati kita menjadi keruh terlebih lagi saudara kita akan merasa tersiksa batinnya karena keburukannya tersebar.

“Ada empat doa yang tidak tertolak, yaitu doa orang yang berhaji hingga ia kembali, doa orang yang berjihad hingga selesai, doa orang yang sakit hingga sembuh, dan doanya seseorang terhadap saudaranya tanpa sepengetahuannya. Adapun doa yang paling cepat diterima di antara doa-doa tersebut adalah doa seseorang kepada saudaranya tanpa sepengetahuannya.” (Riwayat Ad-Dailami dari Ibnu Abbas)

Berikanlah doa terbaik kita agar diri kita menjadi baik. Juga doa kepada saudara kita agar dia melakukan taubat dan perbaikan jika ia melakukan kesalahan. Inilah yang dicontohkan generasi terbaik islam. Sebuah sikap yang mulia yang dilandasi atas dasar keimanan yang kokoh.

Semoga kita diberikan kesabaran dan keteguhan hati untuk menjaga aib saudara kita. Sehingga kelak Allah berkenan menjaga aib kita di akhirat nanti. http://www.tarqiyah.com



Oleh : Kurnia P Wijaya